August 19th, 2006 by myudiman
Puisi ini saya bikin, ketika saya merasa frustasi dengan kelakukan beberapa oknum teman yang secara sengaja memakai sandal yang biasa saya pakai sehari-hari di kantor. Padahal, mereka sebenarnya mampu membeli sendal jepit seharga 6000 an rupiah.
Sampai saya kemudian berhenti bekerja, saya tidak pernah tahu siapa oknum teman yang sering memakai sandal saya itu.
Kepada Yth. Pencuri Sandal
Pencuri sandal yth.
Semula, saya tidak pernah menganggap anda pencuri
Ketika saya mangkel karena sandal saya tak ada
Saya berfikir seorang teman meminjamnya
Namun lupa mengembalikan
Saya pun lalu berbaik sangka
Itupun setelah seorang teman memberi saya nasihat :
"Jangan dulu berburuk sangka, tak baik lah,
mungkin saja sandalmu dipinjam tapi tak kembali karena lupa,"
Lumrah saja kan? Namanya juga manusia.
Pencuri sandal yth.
Lantas entah untuk kesekian kalinya,
Saya membeli sandal baru hanya karena Anda
Sandal lama saya yang sebetulnya baru
Juga hilang karena Anda.
Karena masih berbaik sangka
Pada Anda tidak ada amarah Saya
Karena tak kembali
Saya mengalah saja.
Ke pasar Tomas pergilah Saya
Mencari pengganti sandal hilang tak tau rimbanya
Empat ribu limaratus rupiah harganya
Untung, masih ada uang lima ribu di dompet saya
Pencuri Sandal Yth
Saya tak tahu apakah Anda hendak mempermainkan saya
Sandal baru saya dengan cepat berganti rupa
Menjadi buruk tak enak dipandang dan tak nyaman dirasa
Entahlah, kok mau-maunya saya memakainya
Ini semua karena saya masih sabar sama Anda
Akhirnya tumpah ruahlah kemarahan saya
Pasalnya, sandal buruk rupa itu pun akhirnya Anda embat juga
Sedangkan ini Jumat saya harus ke mushala
Waduh, celaka dua belas saya
Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.
Pencuri Sandal Yth
Jika Anda membaca surat ini
Saya hanya ingin Anda tahu
Saya sayang banget sama Anda
Tapi lain kali jika Anda mau mencuri lagi
Tolong bilang-bilang ya.
Jakarta, Agustus 2003
Posted in Uncategorized | 3 Comments »
August 19th, 2006 by myudiman
Anak belajar dari kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
(Dorothy Law Nolte)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
August 17th, 2006 by myudiman
Sudahkah Anda merasa merdeka? Begitu pertanyaan seorang reporter TV kepada beberapa orang. Jawaban mereka beragam. Seorang Bapak dikelilingi teman-temannya menjawab bahwa ia lahir tahun 1946, dan saat itu Indonesia baru merdeka dari penjajahan bangsa asing.
Sekarang, kata si Bapak. Indonesia masih belum merdeka karena masih dijajah oleh bangsa Indonesia sendiri. Alasan si bapak menjawab ini karena ia masih kesulitan dalam mencari nafkah, dan menghidupi keluarganya.
Lain lagi jawaban seorang supir taksi yang juga ditanya si reporter. Menurut pak supir, Ia juga belum merasa merdeka karena masih dihantuii berbagai persoalan yang mendesaknya di tengah himpitan hidup di kota metropolitan Jakarta. Ia mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapinya sebagai seorang supir taksi. Penumpang yang kian sedikit, harga bensin yang terus naik, dan beragam persoalan lainnya.
Sementara dua orang mahasiswa menjawab dengan santai dan cengengesan. merdeka sih merdeka kata mereka. Merdeka karena merekamasih bisa nongkrong di kafe, menikmati beragam makanan enak, lihat-lihat pemandangan bagus. Tapi ada tidak merdekanya juga sih. Menurut keduanya mereka tidak merasa merdeka kalau harus mengerjakan beragam tugas kuliah dari dosen. Lho, apa hubungannya?
Jawaban yang kontras ya? Dua jawaban pertama merasa tidak merdeka karena harus dijajah oleh berbagai persoalan hidup akibat tatakelola negara yang amburadul. Sementara jawaban dua mahasiswa mengindikasikan kebebasan yang mereka dapat karena persoalan ekonomi bukan urusan mereka.
Asyiknya lagi, di era reformehong (mengutip Seno gumira dalam buku Surat dari Palmerah), orang bebas bicara apa saja. Termasuk reporter TV yang berwacana soal apakah kita sudah merdeka. Coba pertanyaan ini ditanyaklan saat orde baru masih berkuasa. Apa si reporter masih bisa teus bekerja di TV? atau jangan-jangan TVnya sudah diberikan peringatan sangat keras oleh Deppen yang kini sudah almarhum, namun bermetamorfosis jadi Dep kominfo.
Jika pertanyaan serupa ditanyakan pada saya, maka saya akan setuju dengan dua jawaban pertama. Karena Indonesia kini masih dijajah oleh banyak hal, sejak kemiskinan, pengangguran, eksploitasi asing dalam beragam bentuk, dan keterbelakangan.
Masa sih?
Posted in Uncategorized | No Comments »